Jika anda tergerak untuk berpartisipasi di Stairway to Heaven program maka silahkan transfer dana untuk donasi ke :

Rekening BCA atas nama Putri Sarach Diba
No. Rekening : 0086468888

Rekening MANDIRI atas nama Muhammad Satrianugraha
No. Rekening : 131 00 061 58 960

Minggu, 05 Februari 2012

HEAVEN #1

Panti Asuhan Yatim Piatu Darul Yatim Sayung, Demak.




Kurang dari setengah hari, program perdana Stairway to Heaven dimulai dan langsung mendapatkan donasi 1,2 juta rupiah dan lebih dari 80 pakaian pantas pakai, jaket, serta beberapa kasur dan selimut. Kami yakin hal ini bukan karena kepercayaan kepada program ini, tetapi semata-mata karena Allah Azza wa Jalla.

Story to Heaven #1:

Minggu siang yang cerah. Setelah berkoordinasi dengan pengurus panti yang akan didatangi, kami mulai perjalanan dari kota Lumpia Semarang ke arah utara menuju batas kota Demak sekitar 30 km dari Semarang. Awalnya kami mendengar cerita mengenai panti asuhan yang sampai saat ini belum mendapatkan perhatian penuh dari dinas sosial.

Dana donasi yang sebagian besar sudah kami belikan sembako sudah menumpuk di bagasi belakang bercampur bersama pakaian pantas pakai, kasur, selimut dan lainnya.

Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di panti ini yang langsung disambut oleh teriakan gembira anak-anak beragam usia yang mereka sendiri sebenarnya tidak tahu apa maksud kedatangan kami.

Belum juga pintu kami buka, mereka sudah membukakan pintu dan mencium tangan kami satu persatu. Beberapa dari mereka terlihat memiliki keterbelakangan mental (down syndrome), tuna rungu dan wicara maupun beberapa keterbatasan fisik lainnya.

"Tidak perlu dibukakan pintu.." kata saya dalam hati. Karena kita lah yang sebenarnya membutuhkan mereka sebagai bagian dari jalan kita menuju surga.

Tak berapa lama kami didudukkan di ruang tamu dan bertemu dengan mas Rony sebagai pengurus panti. Dengan ramah dan selalu tersenyum, beliau menceritakan asal muasal panti ini berdiri. Umurnya baru 32 tahun, tampak bijaksana, dan memancarkan aura positif dalam sosok yang sederhana.

"Kami bukan bekerja, kami tidak dibayar. Ini adalah jalan hidup kami, jalan Allah yang kami syukuri..." begitu kata mas Rony mengawali pembicaraan.

Selain umurnya yang baru 32 tahun, yang membuat kami terhenyak adalah, bahwa panti ini dimulai sejak dia masih muda / bujangan, dan seluruh tanah ini adalah milik pribadi mas Rony yang dihibahkan untuk panti. Dan bahkan beliau hanya menyisakan kamar sempit untuk istri dan kedua anaknya. Subhanallah.

Sesaat sy terdiam, Di benak saya, beberapa teman-teman sesama pengusaha muda yang juga sebagai inspirasi buat saya untuk membuka program ini tiba-tiba memenuhi pikiran saya. Seandainya saya bertanya kepada mereka, berapa luas bangunan kantornya, gudangnya, pabriknya atau luas rumahnya. Dan sanggup kah kalau semuanya kita hibahkan untuk mengurus anak yatim piatu yang entah datang dari mana, dengan ragam usia dan keterbatasan. Lalu pertanyaan itu pun kembali kepada saya, apakah sanggup kalau semua aset yang saya sendiri miliki saya serahkan semuanya ?

Saat saya menggelengkan kepala sendiri, sembari saya melihat kembali ke sosok Mas Rony. Beliau adalah orang pilihan Allah yang akan merasakan nikmatnya surga. Senyum tulus yang selalu muncul di tengah-tengah cerita adalah kebahagiaan dunia akhirat. Itu pasti. Janji Allah tidak akan pernah meleset.

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami takut akan siksa Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan, Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati" (Qs. Al Insan: 8-11)

Setelah beramah tamah sekaligus menjelaskan kedatangan kami, maka pintu bagasi mobil mulai dibuka, dan serah terima donasi dilakukan.

Dana tunai serta sembako berupa beras 50kg, mie instant, dan lainnya termasuk kasur dan selimut berpindah tangan. Semua tampak gembira, dan sebagian dari kami mulai menitikkan air mata.

Sambil melihat mereka berlarian, satu persatu mas Rony bercerita sambil menunjuk anak yang diceritakan. Mulai dari korban TKW di Arab, anak yang dititipkan orang tuanya dan tidak pernah dijenguk lagi, anak yang tiba2 datang entah dari mana dan tidak pernah bisa ditanya darimana, bahkan jabang bayi yang masih terlilit pusar yang tiba-tiba ada didepan pintu panti yang sekarang sudah mulai tumbuh dewasa. Sebagian dari mereka yang sudah dewasa tampak membersihkan ruangan-ruangan panti.

"Semua anak asuh ini jumlahnya lebih dari 90, sebagian sekolah dan sebagian tidak. Jumlahnya yang banyak menyebabkan paling tidak harus ada minimal 27 kg beras yang dimasak setiap hari ". "Seringkali jika memang tidak cukup, ya kami harus utang dulu dipasar agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi..." cerita terakhir mas Rony sebagai penutup.

Saya pun terkejut lagi. Dalam hati saya berkata, jadi 50 kg beras yang tadi kami bawa, ternyata hanya bertahan 2 hari. Sembari pamit, saya katakan kepada beliau bahwa Allah yang akan menjaga dan memenuhi kebutuhan anak yatim.

Semoga program ini adalah awal dari langkah yang berkelanjutan. Amin Ya Allah.

(Semarang, 5 Februari 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar