“… satu tikungan
lagi sudah sampai rumah saya..” kata pak Suryana. Kami pun mengangguk,
dan mengikuti dari belakang, sembari menyeka keringat, karena satu
tikungan yang dimaksud adalah 2 km menanjak di kaki bukit di kabupaten
Cianjur. Dari jalan setapak, kemudian kami berbelok melewati beberapa
sawah untuk sampai di rumah petak dari bilik bambu yang ukurannya tidak
lebih dari 4x4 meter dan tanpa listrik.
Story to Heaven #2 :
Pak Suryana adalah pedagang buah kedondong yang berjualan berkeliling
dari desa ke desa dengan memanggul dagangannya berupa kotak kaca lusuh
yang diisi 25 kg kedondong. Dari jam 07.00 beliau berangkat menempuh
jarak belasan km sambil memanggul dagangan dan meneriakkan dagangannya.
Rumah petak nya dihuni oleh istri dan ketiga anaknya. Bercampur dengan
bebek dan ayam milik tetangga. Tempat mandi berada diluar, berupa bilik
ukuran 1 x 1 meter yang ditutup oleh terpal biru yang tidak penuh tanpa
atap. Sehingga kadang bebek-bebek ikut masuk dan mandi di tempat
tersebut tanpa basa basi. Airnya tidak mengalir, sehingga siapapun yang
mandi ditempat tersebut maka air ya itu-itu saja. Tampak sangat tidak
sehat.
Waktu kami datang, istrinya ada dirumah. Tampak lelah dan terlihat seperti memiliki penyakit dalam yang tidak mau diceritakan ke orang lain. Usia yang terus menggerogoti pak Suryana seolah tidak dipedulikan. Kebutuhan hidup keluarganya harus terpenuhi. Hanya 1 anaknya yang beruntung bisa sekolah.
“… Anak yang paling gede saya titip di pesantren, yang nomer dua sekolah SD, kalau yang kecil ya dirumah aja. Setiap hari saya tinggal untuk jualan, kalau saya tidak berangkat dagang ya berarti tidak makan.…” kata pak Suryana.
Penghasilannya memang sangat tidak menentu. Seringnya 25 kg kedondong itu tidak habis sampai seminggu lamanya. Dan kalau tidak laku kedondong tersebut direndam air gula untuk kemudian dijadikan manisan. Berjualan sampai belasan km jauhnya dari rumah pun dilakukan, karena selain pembelinya yang tidak banyak, juga karena jika berjualan di sekitar rumahnya, maka sebagian pembelinya tidak akan membayar langsung alias dihutang.
Saat kami tanya mengenai apa rencana kedepan untuk memperbaiki kondisi keluarganya, pak Suryana menggeleng perlahan. Tidak ada rencana apa-apa, semua dia pasrahkan ke Allah yang Maha Memiliki Segalanya. Tentu faktor ekonomi yang membuat tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau memang sempat berjualan bakso, tentunya dengan gerobak milik orang lain, dan sisa-sisa perjuangan dalam berdagang bakso dapat terlihat dari jari telunjuk kananya yang terpotong sebagian karena kecelakaan pada saat membantu proses penggilingan daging sapi untuk baksonya. Hanya saja, berdagang bakso dengan sistem setoran, ditambah dari pembeli yang sering berhutang membuat tidak menambah penghasilan tetapi malah tombok.
Kami tim relawan Stairway to Heaven program Heaven #2 memberikan bantuan modal berupa dana sebesar Rp. 500,000 untuk pak Suryana. Harapannya tidak hanya berjualan kedondong, tetapi juga bisa ditambah macam-macam buah yang lain. Dan 2 bulan setelah penyerahan dana tersebut, kami akan silaturahmi ke pak Suryana untuk mengetahui perkembangan bisnisnya. Apabila dari Rp. 500.000 tampak ada perkembangan, maka kami akan menyiapkan gerobak bakso khusus untuk dimiliki pak Suryana. Semoga Allah memberikan jalan untuk kehidupan yang lebih layak kepada keluarga pak Suryana. Dan semoga Allah mensucikan harta dan memberikan ketentraman jiwa bagi kita semua.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka , dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka , dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya dia kamu itu ( menjadi ) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka, Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS At-Taubah: 103)
(Cianjur, 14 Februari 2012)
Waktu kami datang, istrinya ada dirumah. Tampak lelah dan terlihat seperti memiliki penyakit dalam yang tidak mau diceritakan ke orang lain. Usia yang terus menggerogoti pak Suryana seolah tidak dipedulikan. Kebutuhan hidup keluarganya harus terpenuhi. Hanya 1 anaknya yang beruntung bisa sekolah.
“… Anak yang paling gede saya titip di pesantren, yang nomer dua sekolah SD, kalau yang kecil ya dirumah aja. Setiap hari saya tinggal untuk jualan, kalau saya tidak berangkat dagang ya berarti tidak makan.…” kata pak Suryana.
Penghasilannya memang sangat tidak menentu. Seringnya 25 kg kedondong itu tidak habis sampai seminggu lamanya. Dan kalau tidak laku kedondong tersebut direndam air gula untuk kemudian dijadikan manisan. Berjualan sampai belasan km jauhnya dari rumah pun dilakukan, karena selain pembelinya yang tidak banyak, juga karena jika berjualan di sekitar rumahnya, maka sebagian pembelinya tidak akan membayar langsung alias dihutang.
Saat kami tanya mengenai apa rencana kedepan untuk memperbaiki kondisi keluarganya, pak Suryana menggeleng perlahan. Tidak ada rencana apa-apa, semua dia pasrahkan ke Allah yang Maha Memiliki Segalanya. Tentu faktor ekonomi yang membuat tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau memang sempat berjualan bakso, tentunya dengan gerobak milik orang lain, dan sisa-sisa perjuangan dalam berdagang bakso dapat terlihat dari jari telunjuk kananya yang terpotong sebagian karena kecelakaan pada saat membantu proses penggilingan daging sapi untuk baksonya. Hanya saja, berdagang bakso dengan sistem setoran, ditambah dari pembeli yang sering berhutang membuat tidak menambah penghasilan tetapi malah tombok.
Kami tim relawan Stairway to Heaven program Heaven #2 memberikan bantuan modal berupa dana sebesar Rp. 500,000 untuk pak Suryana. Harapannya tidak hanya berjualan kedondong, tetapi juga bisa ditambah macam-macam buah yang lain. Dan 2 bulan setelah penyerahan dana tersebut, kami akan silaturahmi ke pak Suryana untuk mengetahui perkembangan bisnisnya. Apabila dari Rp. 500.000 tampak ada perkembangan, maka kami akan menyiapkan gerobak bakso khusus untuk dimiliki pak Suryana. Semoga Allah memberikan jalan untuk kehidupan yang lebih layak kepada keluarga pak Suryana. Dan semoga Allah mensucikan harta dan memberikan ketentraman jiwa bagi kita semua.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka , dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka , dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya dia kamu itu ( menjadi ) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka, Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (QS At-Taubah: 103)
(Cianjur, 14 Februari 2012)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar